Puncak tertingginya kalam saat berhasil mentadabburinya, bagaimana peleburan makna dengan bahasa, menyatu dengan inti-inti teks, nyawiji seikat dengan tajalli berupa aksara-aksara Ruhaniah.

Seperti di bilang Cak Tejo, orang yang tau maknanya itu dalam, tapi masih kalah dalam dengan orang yang tak mengetahui maknanya namun tau nadanya“, Bahkan Rahwana pun sudah banyak merubah namanya, berganti Waydehi, mengecoh pencinta sejatinya dengan nama-nama temporernya, namun apalah namanya cinta, cinta sudah tak memandang bentuk, warna dan nada, bagaimanapun seringnya berganti musim, kacaupun badai menghantam, pun akan tegar sejati utuh. Temanku yang dari tadi mendengarkan penjelasan Mbah Kromo menimpali, “memang, butuh perspektif untuk mencintai, tapi sejatinya, cinta tak butuh perspektif“, begitu kan Mbah?, di tutupnya dengan pertanyaan dan meringis gigi kuningnya yang tak rata.

Ada tetanggaku, namanya Mpok Rabiah, beliau sangat gigih dalam memerjuangkan cinta, apapun yang dilakukan harus berinisial cinta, “jika tidak, lebih baik tidak”, ucapnya. Pernah suatu saat di tengah pikuknya orang bertabuh genderang untuk merampok dunia kertas ini, Mpok Rabiah dengan susah payah mengangkat timba berukuran tak sepadan dengan tubuh ringkihnya air, beliau berlari (walaupun tak cocok pula disebut berlari) kesana-kemari, sambil mulutnya berkomat-kamit lantang, “aku akan memadamkan neraka, dimana neraka itu, dimana, akan kusiram“, terus saja begitu, sambil melelehkan butiran air matanya. Tadinya aku berpikir untuk meminjami Hydrant, tapi tak digubrisnya. Yassalaam, sejuknya.

loading...

Di hari berikutnya, lagi-lagi Mpok Rabiah bikin ulah, “sensasi macam mana pula yang bakal di buat si Mpok satu ini?“, pikir tetanggaku yang hidupnya dihabiskan untuk ngomongin orang terus. Dengan tergopoh-gopoh Mpok Rabiah mengangkat Obor tinggi-tinggi, dengan tangan yang ototnya sudah banyak memberikan tekstur alami itu, sambil menyincing sebagian seweknya, tertatih agak sedikit berlari kecil, dan tak lupa dengan wiridan omelannya lebih lantang dari sebelumnya, “dimana surga itu, dimana surga, akan aku bakar habis, biar tinggal arangnya“. Aku hanya bisa berpikir, “kenapa tidak sekalian bawa drum bensin atau solar kek ya, kan enak, aku pun bakal lebih setuju”.


Laila, dengan bundar penuh matanya, mengisi setiap sudut katup matanya, melinangkan pendar cahaya yang melewati retinanya, siapa yang tak bakal tergila-gila dengannya?, pun Qais tak mampu menahannya.

Sudah berubun rindunya, berjalanlah tak tentu arah, Qais dengan tubuh yang tak pernah di hiraukan bentuk dan kesehatannya. Begitu terlihat hewan piaraan Laila, bukan main bunga hatinya, di kejarnya hewan tersebut. Tak jauh dari arah hewan itu berlari, ada seorang (katakanlah syekh) yang sedang dengan khusyuknya shalat, tak ayal, hewan itu berlari tepat berlari di depan syekh tersebut, Qais yang sudah buta cinta, tak menghiraukan adanya syekh dan melewati di depannya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Seselesainya shalat, syekh membentak Qais, Qais, apakah kamu tidak melihat aku sedang menghadap Tuhanku, dan kau lewat begitu saja di depanku?“, dengan ringannya Qais menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari hewan piaraan Laila, “Aku, melihat hewan piaraan pujaan cintaku saja sudah mampu buta melihat bentuk yang lain, tapi bagaimana dengamu?, nyata-sadar menghadap Tuhanmu tapi masih saja sempat menghiraukan yang lain”, Qais masih terus mengejarnya.


Penyerahan jiwa tidak lagi butuh aling-aling, sepenuh-penuhnya, di suguhkan hasrat-egonya pada sipir-sipir spritiual, di relakan dengan tanpa syarat lagi segalanya. Bagaimana mungkin yang memiliki keAbsolutan atas keabsolutan akan di uring-uring?. Hamba macam apa lagi?


Life on Zero line, make you feel happines.

One thought on “Tadabbur Cinta”

Leave a Reply