HE ROSES

“Untuk siapapun yang sudah dan atau akan mengisi sela-sela berprosesku dalam menjalani sisa nasi dalam piring ini, semoga DiridloiNya”

Ada banyak sekali siapa dan apa yang tak mungkin kusebut karena pertimbangan estetika, siapa dengan sosok-sosok imajiner, visioner dan yang lain, dan untuk apapun bentuk-bentuk yang sengaja memberikan sumbangsih demi membentuk Sculpture hidup, Waktu, Ruang.

Terkadang, ketika dalam waktu yang lalu, kita hanya bisa menggerami nasib, yang tak kunjung berubah menjadi lebih baik versi kita, dirasa semakin memburuk menurut kita, atau memang kenyataanya lebih parah lagi, dan lagi-lagi berdasar persepsi diri kita sendiri, merasa tidak pernah mendapat ruang dan waktu, pertanyaanya sampai kapan?. Padahal, mungkin kita sejenak lupa atau melupakan, sudah banyak sekali sumbangsih yang kita dapat dengan cuma-cuma, beberapa dengan ikhlasnya menyodorkan cek kosong berupa motivasi, yang lainnya menyuguhkan moral morilnya, di satu sisi terus dan tak pernah berhenti untuk selalu mengait mendongkrak dengan doa-doa mustajabah, di lain kesempatan alam juga ikut menyenandungkan keharmonisan hidup, dan akan selalu, pasti. Tinggal bagaimana kitanya menyikapi?.

loading...

Ini hanya kumaksudkan untuk ucapan terimakasih, teriring fatihah untuk sosok yang tertulis berikutnya, semoga diberkahi, diridloi, disejukkan hati dan otaknya. Amiin.

Mungkin waktu yang menjadi simbol saat itu, ketika aku yang berdebu dan akan masih berdebu melakukan hal-hal konyol di luar ambang batas normal sebagai bocah, merajut manik-manik dari pita, berharap receh dari buah tangan, menjajakannya dengan semangat tanpa ada rasa malu ataupun gengsi dengan kondisi, berpindah dari kelas-kelas kecil, menuju lapangan yang sesak dengan hiruk-pikuknya peserta lomba akhir semester, itu kulakukan dengan sekawanku bertiga, sayang, waktu tak memberiku kesempatan untuk sekedar mengucap, “selamat lulusan kelas 3”. Ya waktu berkata lain, dia dengan senyumnya yang manis melambaikan tarikan bibirnya sebagai ucapan sampai jumpanya. lahu Alfatihah.

Berikutnya di sekolah menengah pertama, titik balik sebuah kehidupan, Rumahtangga yang coba dibangun rapi oleh Emak Bapak, sedikit, yah walaupun ukuran sedikit ini lebih bijaksana daripada menggunakan kata selain itu, mulai terombang, klisenya ekonomi, yang sekali lagi waktu dan ruang berperan memberikan sangu atau bekal untukku. Menempa dengan beberapa percobaan-percobaan kecil, seperti penuh sesaknya ruang sehingga sempit sisa ruang untuk dimasuki, bahkan untuk semisal tidur berdiri saja. dan, memang benar, tak ada sesuatu sandungan tanpa disertai tambal bannya juga (obat sandugan). beberapa celah berhasil diberikan jalan, istilahnya lubang untuk mengambil nafas. Terima kasih untuk pujangga-pujangga kecilku waktu itu, entah sekarang di dan bagaimana kalian?, harapanku sama seperti di awal. alfathiah.

Masih soal ruang dan waktu, banyak sekali celah-celah yang menganga mempersilahkan untuk di masuki, puncaknya ketika mencoba lubang black hole University, kesempatan ini aku coba masuki hampir setiap tahu setelah Selembar kertas pengesahan di legalisir, walapun sampai beberapa kali tak pernah ada yang mau membukakan pintunya. Ada cerita, mungkin unik atau bagaimana, kalau tidak salah, tiga atau empat diantara sekawanku melakukan pengiriman portofolio untuk persyaratan memasuki seleksi bersama, mereka diterima, dan aku di PHP :v. yasudah, ini soal ruang dan waktu. aku harus masih tetap melangkahkan goresan pensil-pensil patahku. Alfatihah untuk ruang dan waktu.

Nah babak berikutnya, giliran peran sesosok He Roses, mawar-mawar yang mekar di siang hari bolong, dengan seizin dari yang punya stempel perizinan, datanglah atau dipertemukanlah aku dengan sosok-sosok yang sama sekali tidak sok-sokan sepertiku ini. insan yang benar-benar memberikan input imun atau semacam obat-obat penenang, dengan gayanya yang luwes ketika ngomongin sesuatu, penyabar, insyaa Allah, yang hampir lupa aku, berapa kali dia memberikan sumbangsih moral, kepekaan terhadap sosialnya tinggi, setidaknya itu yang aku rasakan. pernah suatu hari aku melakukan suatu kesalahan yang baru aku tau saat itu, dan dia biasa-biasa saja, sedetik berikutnya, kembali suasana mencair. Alfatihah untuknya, tak dapat kuingat berapa kali menyemangatiku. Bravo.

Kemudian, ini hal yang diluar dugaan, Tuhan masih sayang dengan hambanya yang serampangan ini, biarpun tidak begitu memperhatikan Hak-Hak keTuhanan, dengan Maha Rahimnya Dia tunjukkan kepadaku caranya bersyukur, menikmati baik buruknya keadaan, dengan mengirimkan malaikat cewek yang belakangan ini ku tau namanya cowok, menemani hari-hari dimana aku mulai glimbung, kesana kemari untuk mencukupi kebutuhan mulut dengan asap :v, dia memberikan keringat kesediaanya untukku, walaupun baginya aku tak pernah menganggap adanya, simpelnya mendadak atheis terhadapnya, yasudah, biarkan aku menjelmakan hal itu dengan caraku sendiri, bukankah di laman sebelumnya, engkau pernah menuturkan, “jangan pernah berharap pada manusia“. alfatihah untuk sejuta usahanya, Tuhan yang tau bagaimana balasan yang layak untuk hal itu.

Dan yang teramat spesial, seperti setiap domba-domba tersesat ini muncul di panggung sandiwara ini, Emak-Bapak, ya, tanpanya yang di berikan kesempatan olehnya mendidikku, aku akan berubah menjadi dinosaurus-dinosaurus tersesat.

Terakhir, untuk Alam, aku berterima kasih sejauh lubuk hatiku, sedalam ingatan otak kelabuku, serenta otot-ototku, Semesta.

Jangan pernah berhenti berproses.

Leave a Reply