RAHMADHAN

Berpuasalah, maka Anda akan sehat – seperti Cak Nun bilang, “puasa ini adalah moment untuk bercinta dengan Sang Khalik, dimana waktu privat disediakan untuk hamba-hambanya lebih mendekat, menyentuh nikmat-nikmat yang tak akan pernah bisa di tulis dalam lembar-lembar yang sudah-sudah, lubang untuk dimasuki kerinduan terhadap Dzat yang memberikan semua kebutuhan, Lorong untuk menjembatani terbukanya senyum Cahaya”.

Masih di tempat yang sama seperti malam-malam ndaru, dipojokan gardu reot yang sudah termakan usia dini, Mbah Dhani asik dengan sebatang Mbako Gulung di tangan kirinya yang gemetaran, sambil menyeruput sisa kopi Tadarus di Surau ujung gang, kemudian dia hisap dalam-dalam sembari memejamkan matanya rapat-rapat, tersenyum sambil berucap, “Nak, jangan sekali-kali engkau berharap pada pengharap, ya manusia-manusia itu sendiri, apalagi selain manusia, seperti akik-akik zamrud sekalipun“. Beberapa butir cucunya manggut-manggut tanda mengantuk. “lalu mbah, kenapa manusia senang sekali memberi harapan?, kan bukan wewenangnya?“, tanya cucunya yang paling bengal, Rah namanya, entah siapa kepanjangannya, pokoknya dia dikenal dengan Rah gitu aja. si Mbah Dhani tersenyum lagi menampakkan gigi gowangnya yang berumur, “memang nak, beberapa ada yang gemar memberi harapan dengan alasan atau harapan, semoga harapannya bisa diijabah oleh pemberi Harapan, ada lagi yang memang dia lihai dalam urusan kasih harapan, seperti harapan-harapan yang di cetak miring di baliho-baliho pinggir jalan desa itu“, sambil menuding ke ujung jalan. “yang penting nak, jangan sekali-kali kamu berburuk sangka dengan jargon-jargon yang mereka sumbarkan, ambil poin pertama, anggaplah itu suguhan harapan yang semoga di ridloi oleh sang Pmeberi harapan“, “be gitu“, tukas Mbah Dhani menjawab pertanyaan Dek Rah.

loading...

Malam diawal Ramadhan kali ini memang agak sedikit tidak seperti biasanya, beberapa lancing-lancing (perjaka) di desa yang biasanya guyup mendatangi Surau, meskipun hanya meramaikan dengan cekakakan dan omongan ngalor ngidul plus main Gaplek di serambi surau, kini sepi banyak yang absen, Entah kemana, dengar-dengar sih mereka lagi asik main mobil lejen dan pab ji. Memang tidak semuanya, tapi dari satu sampai sepuluh, delapan yang seperti itu. tidak masalah.

Masih menunggu jam Patrol, Mbah Dhani menemani cucu-cucunya yang mulai bergelimpangan, sehabis makan singkong bakar yang di maling dari pekarangannya Mbah Dhani sendiri. tepat pukul 12 lebih semenit, Mbah Dhani kembali menyalakan Kreteknya yang tinggal segelinting itu, dia hanya tersenyum melihat calon penerus perjuangannya melawan hidup ngorok tak beraturan. “syahdu“, batinnya. betapa tidak, suasana malam itu dingin menyelimuti, cerahnya langit menjelmakan pernik-pernik gumintang, siulan-siulan alam dengan riak irama air dari kali kecil di bawah gubug memberikan suasanya yang benar-benar damai menyentuh relung hati. Si Mbah Dhani teringat kembali partikel-partikel dalam sirah kehidupannya, ketika masih bocah dulu, seperti melihat dirinya dengan kawannya di pelataran sawah, bermain riang lepas bercanda tertawa, menangkap belut setelah musim panen tiba, memanjat kelapa dan meminumnya sambil menyandarkan tubuh keringnya dengan si Ma teman sepermainanya. Seperti tersentak oleh sesuatu, Si Mbah menengadah dengan kekuatan lemahnya, mencoba menahan linang-linang air matanya yang sudah kering, “Ma“, “Ma“, beberapa kali di ucapnya, “kemana engkau berlabuh sekarang Ma?“, bisik hatinya.

Teng, teng, teng“, suara kloneng yang baru saja di tabu di desa sebelah sayup-sayup tersampaikan ke gendang telinga si Mbah Dhani, dengan halus lembutnya, bocah-bocah di hadapannya di bangunkan bergiliran, “Nak, katanya mau patrol, ini sudah jam satu“, tak lupa dia memijit kaki cucunya yang kecil mblingset, Rah, karena ini cucunya yang paling sulit kalau dibangunkan.

Cucu-cucunya yang berjumlah sembilan itu bangun dengan semangatnya, dalam hati si Mbah Dhani berharap, “Ya Rabb, semangatkan hari-hari mereka”. bergegas mereka mengambil tetabuhan dari barang seadanya, Tak tok, biasa orang-orang kampung menamai alat musik yang terbuat dari batang bambu dengan lubang menggaris di tengahnya, dan untuk Rah, dia membawa Jerigen ibuknya dengan pemukul berujung sandal dari masjid waktu jum’atan dia tilep.

Ohya, Ma itu nama panjanganya Ma syaa Allah, sedanga Rah itu, Rahwana, Sedang Mbah Dhani itu biasa di panggil Mbah Dhan saja. dan sebenarnya Rah itu anak dari Ma yang hilang saat kisruh di gedung de pe er, mei lalu.

RAHMADHAN

Leave a Reply