Apalagi yang masih dibutuhkan untuk terus merajut kisah heroik dalam hidup ini, hampir tidak ada lagi yang kurang, sudah cukupi merajuknya, buka jaket kemejanya, tengadahkan dagu, pejamkan mata-mata se-sendu-sendunya, tarik nafas sedalam ingatan dalam benak, angkat jemari keriput berotot itu menerjang awan, yakinkan hati. Yes i can.

Beberapa hari ini aku banyak sekali hal yang harus dipikirkan, soal teman, relasi, order, dan kepercayaan tentunya. Di saat bagaimanapun aku harus siap menghadapi catatan lembarku sebab lembaran catatan yang sudah-sudah. Mencoba merangkai mengaitkan beberapa varian hal, terutama soal tekad. Kalau sudah tekad membulat utuh, biarpun setumpuk draft susunan halangan akan bergilir untuk dicicipi, segunung pasir lembut pun, akan di hitung dengan jari, dengan izin dari yang memiliki hak dari segala hak.

Perahu kertas yang terapung dalam riak sungai, berkelok melewati celah-celah batu karang berlumut tebal, menerjang jeram diantara tebing-tebing sampah manusia, kadang juga mengalir landai, dan tak sering tiba-tiba ada jaring yang sejatinya tak dipasang untuk perahu kertas menjerat, belum lagi kertas yang sudah lapuk lembek terkikis cerita, tapi itu hanya sebagian, tidak sampai separuh dari perjalan manusia, mantapkan saja dalam hati yang terdalam, aku bisa sampai hilir dengan selamat, ya walaupun kondisi sudah bisa disimpulkan, remuk. Untuk apa di hilir?, menantang laut.

loading...

Beberapa diantara ada yang kandas dalam perjalanan, perahu kertasnya berlubang di banyak sudut, bukan tak dapat lagi di tambal dengan kertas-kertas putih, bahkan menggunakan kertas buram seperti soal ujian semester di sekolah-sekolah dulu pun tak mampu, beruntung jika lipatan origaminya masih lekat saling menggenggam, nah yang semoga tidak sampai menimpa pada perahu kertas kita itu, sudah lubang, persediaan kertas habis, kerangka lipatan juga renggang bahkan terlepas. Ikhlaslah.

Ada banyak cerita kecil-kecilan dalam menunggang perahu kertas, kicauan burung pipit di serambi sawah, ranumnya jeruk nun jauh disana. Yang membiaskan kemuningnya senja, sesekali sepoi di aliran yang tenang memberikan gairah untuk mendayung lagi, namun juga begitu, seperti tak ada donat yang utuh sempurna, pasti ada saja. Tak apa, itu juga bagian dari harmoni dalam riak-riak permukaan air jeram. Tidak usah risau, teguhkan saja perahunya, sambil terus melapangkan dada, ikhlaslah.

Sampai kapan?, urusan itu tidak ada yang tahu, seperti seorang pujangga amatiran di pinggir jalan yang kutemui waktu itu, memberikan beberapa butiran ceritanya.

Melampah, Kapan, dan yang paling aku suka soal Tadabbur Cinta. Itu dilewatinya dengan kaki-kaki keringnya yang bengkok, bengkak pula.

Leave a Reply