Berdamailah dengan alam, akan disambutnya dengan segenap runtuhan nikmat dan sanjungan dari pelosok hutan, memberikan irama ringkikan kuda, menampilkan tarian orkestra dari sekelompok simpanse yang kesiangan, meneteskan embun-embun yang melinang dari sela-dedaunan kering, menyibakkan hembusan segarnya udara bau tanah, damai, sedamai-damainya hidup.

Di luar sudah penuh dengan asap-asap pencitraan, berlalu-lalang dengan bebas kendaraan-kendaraan bermuatan kepentingan, rombongan penyamun berseragam gamis-gamis dengan corak khas kota Gurun, tumpahan anak busur bersliweran mendesing diantara silang kaki-kaki kering, ada memang sesekali hujan turun menyapa bumi kering, tapi sayangnya tak jarang hujan asam yang lebih banyak memenuhi skedul pemberangkatan tanpa mau delai, kalau perlu mendahului timing, biar sekalian saja semrawut. Dari itu, yang masih mengaku anak ayam biarlah bernyanyi mendayu dalam balik jeruji yang berkah itu.

Memang berat saat stok instrumen nyanyian terbatas dalam nokta-nokta tertentu saja, dengan pakem yang harus digunakan sebagai bahan, selainnya tidak diperkenankan. Itu bukan batasan memang, itu hanya manifestasi dari kasih yang sangat hangat dari sang mullah kecil-kecilan, yang hanya mengharap jalan yang lurus dari mullah-mullah sebelumnya. Sabarlah, akan ada banyak waktu untuk mendapatkan instrumen nada nyanyianmu untuk kau elaborasikan. Percaya saja, bukan begitu jargon yang kalian senandungkan?.

loading...

Kemampuan untuk mengeluarkan nada-nada tidak sama, dari tekanan sampai kekuatan dalam menahan nafasnya, barithonnya eropa tidak sama dengan lubang tenggorokan orang Asia, tidak perlu menyamakan memaksa senada, cari, temukan, tekuni, akan ada dentingan syahdu dari kicau anak ayam yang bisa menggetarkan anak krakatau sekalipun. Dengan adab harapannya.

Seperti yang sebelumnya kutulis dalam lembar kertas usang, soal Meh Lampah, perjalan anak ayam butuh beberapa rule, pegangan anak tangga, sandal-sandal khusus berbalut doa, sudah ku serapahkan di sana.


Syi’ir elegi kenestapaan yang bertalu-talu dalam gema, di ruang waktu dalam sejuknya berkah, ingin sekali kusapa kerinduan itu, sekedar mencicipi tangisan kecil di sudut malam, menghambakan sehina mungkin dalam doa-doa kecil yang tak sempat keluar menyapa angin, dalam remang dan senyap, aku pernah di sana.


Saat tiba kesempatan kalian untuk berkokok dengan suara yang khas, anak ayam yang tadinya hanya bisa ber-“kiyek, kiyek” saja, lepaskan, hentakkan udara dengan karya-karyamu, luapkan dengan semangat jari-jarimu, jalumu akan mencabik para pendengki kelas teri itu, yang bisanya hanya nggeruweng seperti tawon tanpa bisa menelurkan madu. Pesannya satu, berkokoklah tanpa membusungkan dada. Bukan itu yang diharap mullahmu.

Selamat berjuang menindas waktu.

Leave a Reply