Entah apalagi yang bisa aku limpah ke hadirat Sosok itu, tak mungkin bisa mencapai debu-debu di beludru usangnya, bahkan butiran di sela terompah bututnya, padahal berbanding terbalik dengan curah kerelaan untuk ekor-ekor yang tak bisa menengok telinga kepala, atau sungunya yang rupawan, pun pangkal ekornya sekalipun, sebagai sebaik-baiknya template yang bisa di adopsi bermuara padanya, izin hamba yang satu ini menggunakan dengan remah hati tanpa negosiasi.

Seperti yang keluar dari bibir ranumnya, “tidak, aku dulu, baru keluargamu“, layak dan memang pantas seperti itu, intip apa yang sudah di hamparkan, beragam hayati hikmah ilmu yang di tuang dalam permadani kaum madani, tanpa ada negosiasi rupa dalam apapun yang di hidangkan, gelap, mengkilap, putih, gemerlap, tak ada bedanya, hanya satu yang di harap, sekali lagi bukan di sabit-sabit, hanya harap demi kebaikan, itu iman. Padanya pun padaNya.

Dengan dalil yang dengan segampang ringannya kapas-kapas tersiram angin gurun, cap label yang di naungi sebagai teduhan yang seharusnya menyejukkan, berganti arah angin berliuk menghantam sesuai kebutuhan aktor berjubah, lupa, kepalang tanggung dengan tahta, membinal sebab ikat pinggangnya mulai kendor, atau sengaja di lepas tanpa di buang jauh pandang, bengal, seperti itukah ketidak maluan terhadap teduhan dalil itu?, penerus?, the next generations?, atau numpang tandem follower?, hidupnya masih belum selesai untuk negosiasi.

loading...

Kasih nya sepanjang masa, tapi kasihnya, tak bermasa, bagaimana dengan janjinya tanpa baliho besar-besaran di pojokan pertigaan jalanan desa, jargon yang senantiasa dengan linangnya hanya untuk meyakinkan yang belum pernah bersua, tanpa syarat, tanpa negosiasi, hanya kasihnya yang begitu lembut dari lembut.

Budak, hamba sahaya, raja, perwira, rata permukaan air dalam bejana, tanpa rupa yang di agung-agungkan. Tidak dengan karenanya semua ada lantas menjadi membuncah, tidak, dengan hangatnya, bermalam-malam di habiskan untuk beristighfar, maksum itu, yang maksum seperti itu, yang mesum semakin ambigu.

Cahaya tak dapat menyinari cahaya, tanah tandus tak mampu menerima bias bayang yang terhalang cahaya, teduhnya awan beriring dengan tapak-tapak tumitnya, yang memusuhipun mengakuinya, ya saat itu, bodohnya, yang mengaku bergandeng lambaian gamisnya seakan menjelma Tuhan. Rupa yang mana?.

Fleksibel, lentur seperti seling atau kawat baja, bukan lembek seperti agar-agar 3 menit setelah tuang, pun tak mebatu pecah di hantam. “Yaa Humaira“, uluknya pada pecintanya.

Tak ada bau anyir, tak ada, suci bersih dari serpihan noda, zat ekskresinya pun menjadi obat-obat mujarab bagi pujangga jalanan, yang bingung menentukan dinding mana yang harus diratapi. Tak lebih dari beberapa meter saja tempatnya, karena tak butuh lagi dengan negosiasi-negosiasi dunia, sendirinya, dunia itu.

Ukuran, Warna, Rupa bukan sebuah sebab, tangannya akan selalu di selendangkan pada pundak-pundak pengharap tetes dari cawannya nanti, penghilang dahaga. Semoga ada sisa.

Kami rindu, minimal sosok Neo yang tanpa Negosisasi rupa. Pbuh.

Leave a Reply