“Hijrah jangan cuma chasing”, sebut Kang Angginapitupulu di suatu saat yang lalu. Jadi terngiang sampai sekarang, kadang sampai membuatku malah stuck dengan ucapan itu, aku yang di berikan kelengkapan jasmani ini kenapa masih saja suka merutuk mentakadil-takadilkan Tuhan, kenapa selalu saja menyalahkan keadaan, egois dengan diamnya sendiri. Sampai kapan?

Berjalan menempuh kejamnya gurun, menapaki lembah curam, mengarungi pantai-pantai bertebing, semua memang soal berjalan, berhenti pun itu berjalan, masih dan akan selalu berjalan sampai waktunya benar-benar berhenti. Setelah itu i dont know.

Seperti sekarang, pergulatan dalam sela-sela perjalanan yang tak tau masih panjang atau sudah sebentar lagi sampai pada takdir masing-masing, banyak kota-kota yang sudah di singgahi, suguhan jamuan baik tidaknya dari sang tuan rumah, waktu.

loading...

Soal pilihan rute bebas di tentukan, mau memilih yang seperti apapun, lurus tanpa lukisan dinding, hanya lorong lobi rumah sakit, atau berkelok dengan dinding pohon pinus dengan sura monyet dan burung juga bisa, mengendarai kendaraan bermotor yang suka mbrebet saat tanjakan, atau jelan kaki beralas terompah tua dari Baghdad itu bebas, sebebas manufernya Elang yang hendak mencengkram waktunya.

Beberapa catatan kecil banyak dibuat oleh pejalan yang sudah-sudah, menggunakan rute yang pernah dilewatinya, dipaparkannya dengan bahasa-bahasa, dituliskan dalam bungkus-bungkus suratan, diucap visualkan menggunakan indera yang ada dan bisa dilakukan, dalam antologi sebuah sejarah melewati waktu. Berbagai macam ibrah yang bisa disadur ulang, tapi tidak sedikit yang gagal dalam menyajikan dalam kondisi yang dialaminya sendiri, ternyata juga bisa jadi malah menjadi bumerang bagi salik kecil-kecilan saat mulai melangkahkan walau masih harus dengan iringan kereta dorong itu.

Jalan kita beda, tidak masalah, silahkan lewati dan nikmati. Seperti celetukan orang-orang imigran asing yang sibuk mencari suaka pada Tuhannya, “banyak jalan menuju Roma“, memang itu, but as alinia sebelumnya, jalannya beda include dengan ornament yang menghiasinya.

Apapun yang bakal ditapaki, semoga kamu, Aku, kami, kalian dan semua kata benda yang menjadi subjek itu bisa di berikan kebaikan.

Ihdinashhiratal mustaqiim

2 thoughts on “Meh Lampah”

Leave a Reply