Minuman yang sudah akrab dengan lidah kebanyakan orang, apalagi di Indonesia yang tumbuh berbagai macam jenisnya ini, sudah membudaya, pagi kopi + ketan koyanya kalau di pasuruan. Setiap daerah memiliki kopi khasnya, walaupun dengan biji yang sama tapi bisa tampil dengan rasa dan aroma yang berbeda, itu lah Indonesia, sambung-terputus. 😂

Banyak yang “mengklaim” ngopi atau kegiatan minum kopi ini milik sebagian kelompok masyarakat saja, yang “Santri ya Ngopi, Ya Ngaji“, “ya walaupun lebih banyak ga Ngopi ya ga Ngaji tapi WiFi”, celetuk kang Maman sambil memutar tasbihnya yang gowang.

Bergeser ke pulau sumatera, ada Kopi Gayo, Aceh kalau tidak keliaru temanku kapan lalu nyangking sebungkus, tapi bukan itu yang mau aku sorot tapi, nama salah satu (suku atau daerah?) di sana, Minangkabau. Apahubungannya hubungannya kopi dengan Minangkabau?, seperti angram judul yang aku pakai, yah pokoknya seperti itulah. 😂

loading...

Di Pasuruan, ada semacam rutinutas unik bagi yang melakaukan sih, pagi jam 3an, pokoknya sebelum subuhan, banyak Abah-abah yang keluar rumah melangkahkan kakinya ke arah masjid Al-Anwar kota Pasuruan, apa?, ngopi, iya ngopi di trotoar, warung-warung kecil, sampai adzan subub memberikan batas jeda, break, jamaah, setelahnya, lanjut lagi sampai jam delapanan.

Dengan pakaian khasnya, putih-putih kopyah wak kaji, sorban dan sarung dengan Merk fanatik masing-masing, ashabul kohwa berkumpul di spot-spot yang sudah di istiqomahi, silaturahim, bersua, berbagi, mbacot, makelaran akik, minyak, burung, dan apapun samapi ngomongin yang lagi trending sekarang, “iku lho yék, baliho sing di pasang dek pengger dalan kae jareku mbok yo di pasang dek tengah dalan ae“, Abah Pratman ngomel sambil ngunyah Cakkue yang masih ngebul hangat.


Kembali lagi ke minang, ini bukan hal yang serampangan, bukan jargon main-main, ini budi luhur, rule yang mesti di lewati kalau mau melewati. Minang sulit, Ko nya ini siap atau belum, dan sebelum siap, Ko yang ke-2 ini siapa?, dasar hidup di khayal imajinasi.


Buntu…

Leave a Reply