Mencari persamaan dari perbedaan sama halnya dengan mencari perbedaan dari pembedaan

Apa bedanya sebenernya, kota dengan hutan, hutan dengan kota, jika dilihat dari balik kemeja atau kain karung goni yang dinkenakan Tarzan atau Tarzen (tarzan modern)?, sama saja sebenernya, ada bulu ketiak, upil di sela-sela bulu hidung, bolot juga, bau keteknya mungkin beda, satunya bau gahru Natural tapi menyengat, satunya lagi bai Parfum 100% ekstrak Gahru, lagi-lagi apa bedanya?.

Di hutan, ku temui lalat hijau, yang kalau lagi menemukam buah agak busuk, atau apalagi busuknya bangkai semut pun, nggeruwengnya bisa bikin pusing sepuluh kali keliling lapangan catur, demikian di kota, sekali ada kabar agak heboh atau ya, apalagi hebohnya bisa bikin fluktuasi seperti di daerah beberapa saat yang lalu, nyaringnya geruwengan tak ada bedanya dengan not balok dalam partitur irama geruwengan lalat hijau di hutan. sama aja.

Katanya, di hutan tempatnya yang buas yang menang, atau istilah yang sering di dengar sih, hukum rimba, yang kalah di mangsa. Ada semut beradu mendapatkan jelitanya ratu semut, bergulat bergumul berguling di atas air sambil naik daun kelor, semut A merasa dirinya yang layak karena keturunannya, Semut B merasa dialah yang paling berhak sebab ke unggulan Predikat Pendidikannya, secara lulusan Harvart University, cume laude juga, kurang apa coba. Ternyata, mungkin karena aku bangun kesiangan tiap harinya, di kota pun terjadi hal yang sama, bedanya tipis, setipis rambut Neng Cinderella di potong tujuh, (dalam hati berucap, ihdinasshirathal mustaqiim). ya begitu, ceritanya tak ubahnya di hutan, ada Ant Man yang berebut anak dengan Ant Women, karena perceraiannya, mereka sama-sama saling mengklaim dirinyalah yang paling berhak atas hak asuh anaknya. Ant Man merasa karena dialah yang berjasa membuahi sel indung telur, dan membiayai prosesnya menjadi zigot, embrio sampai menjadi segumpal darah, bertulang, lahir dan bisa mencak-mencak. Sedang si Ant Women, merasa dialah yang paling berjasa merawat, mengalirkan nutrisi-nutrisi tubuhnya pada si jabang bayi sampai lahiran menatap gelapnya dunia di pagi hari, (maklum, tirainya belum dibuka).

loading...
Jadi apa bedanya?
Bedanya apa jadi?

Tarzan kira-kira makan apa di hutan?, kalau slogan yang diusungnya, “semua adalah saudaraku“, tumbuhan, hewan, semua saudaranya, mungkin untuk menjawab itu, atau jawaban yang minimal mepet bisa di sambung-sambungkan, “mereka, saudaranya Tarzan ini dengan suka rela memberikan sebagian raganya untuk kebutuhan, atau dimakan si Tarzan”, yang kancil memberikan sebagian pahanya, yang ketela rambat, memberikan kuncup daunnya, yang ikan menyuguhkan empuknya daging ikan gabus. Sialnya hal itu juga sama terjadi di Kota Hutan, saling memakan daging saudaranya malahan, tak pandang bulu, terlihat mulus pahanya, sikat, terlihat nongol dengkulnya, sikat, dan tak pernah kenyang-kenyang.

Kesewanang-wenangan Raja Hutan atas wilayahnya, keserakahan Raja Kota atas budak-budaknya, Kemurkahan taring-cakar yang akan mencabik-merobek mangsanya, Keganasan cukong-cukong kapitalis menjilat telapak-telapak kaki biduan dengan rantai di lehernya. meletusnya gunung berapi memuntahkan lahar, menggerus lahan-lahan tempat burung pipit bersarang, dimuntahkannya juga perda-perda yang menggilas keringat-keringat tak berbau.

SAMPAI KAPAN?

Leave a Reply