Menantang Maut

Pagi buta ini aku kembali menantang maut, padahal aku juga tau kalau ajal sudah dalam ubun-ubun, aku sudah tak ada lagi pikiran untuk menunda-nunda lagi. Kusingkap kain korden yang lebih pantas disebut lap tangan raksasa itu, dengan aroma seribu hari tanpa di cuci, bayangkan saja, dengan noda lekat di garis tengah tepat biasa aku menyingkapnya, mungkin beratnya pun sudah bertambah ½kg dari awal di pasang. Aku menuju ruang depan dengan menyincing sepatu but yang ukurannya tak sama, apalagi merek atau warnanya, tak penting, yang penting kakiku yang gemetaran itu aman meringkuk di dalamnya. Ku ambil selembar syal di gantungan, sembari melilitkan, kusambar roti sisa semalam dari meja penuh buku-buku tebal disamping lilin yang tinggal lelehannya. Aku lupa caranya mengunyah dengan adab, sambil menyilakan kaki atau mengangkat garpu dengan pisau, aku lupa dengan hal-hal yang seperti itu, pikiranku saat itu, ada energi untuk menantang maut hari ini. Sudah itu saja. Menelan kunyahan terakhir, ku masukkan beberapa buku-buku itu ke balik jaket beludru yang tebal dengan rangkap kain dan syal, pun kaos yang tak bisa lagi menyerap keringat dingin. Itu bukan menunjukkan aku kutu buku atau semacamnya, akademisi apalagi, buku-buku itu hanya aku fungsikan sebagai penghangat tambahan di musim yang menggigit tulang rahang ini. Walaupun beban yang kubawa bertambah juga, tak masalah.

Persiapan sudah, kuputar knok pintu reyot itu, dengan mengangkat kaki kanan lebih dulu, bukan soal adab atau semacamnya, tapi kaki itu yang bisa menyeret kaki kiriku yang lumpuh sekitar 5 tahun lalu, saat itu, ada insiden kecil yang aku rasa tak perlu kutulis disini, sudah. Kudorong dan ku hempaskan kembali daun pintu dengan perasaan berapi. Bruak. Seketika udara dingin yang menunggu segera menelisik tiap rongga dari pakaianku, mulai lubang-lubang di leher sampai melilit di perut tipisku. Aku sempat bergeming, namun segera kutepis rasa dingin itu, ku seret kaki kiriku menuju garasi, yang sebenarnya itu hanya ruang yang terbentuk dari tumpukan barang rongsokan zaman perang, iya perang melawan keadaan. Kubuka pintu mobil regek dari masanya, kuhempaskan punggungku dengan tumpukan buku-buku tadi, sambil memutar starter, tangan kiriku menggapai rokok di dashboard, beberapa kali kuputar kunci starter masih belum nggereng juga seng bermesin ini, kusulut sebatang, sambil mengepulkan asap, kuputar sekali lagi, dan, akhirnya nggereng juga. Ku gigit batang rokok, tangan kiriku ikut mememutar kemudi untuk kemudian mengeluarkan badan rongsokan tua dari peraduannya. Brumm.

Di jalanan penuh lumpur lengkap dengan genangan air yang menghijau, beberapa kali badanku yang kering ini terhempas kekiri-kekanan, mencoba menyeimbangkan kemudi mobil dengan tetap rokok tergigit di sela gigi kuningku, pikirku dalam hati, “bedebah, jalanan rusak ulah cacing-cacing tanah yang doyan makan aspal“, hingga di persimpangan jalan keluar desa menuju hutan belantara dengan pohon-pohon yang terbuat dari marmer, menjulang tinggi seakan hendak mencabik-cabik rumbai langit, ya kota cecunguk, terlintas de javu saat dulu masih muda umur 30an, ternyata aku termasuk keluarga yang dibesar-besarkan itu. kali ini aku tak peduli.

loading...

Beberapa kali rongsokan tua ini memaksa menepi, sekedar melepas lelah karena paksaan tuannya yang tak bijak dengan mendiamkan Oli 3 tahun yang lalu masih melumasi organ-organ mesin tua, bukan lagi melancarkan, semakin menjerit-jeritkan suara gesekan gigi-gigi gir. tapi sepertinya mengerti juga akan kondisi tuannya saat ini, rongsokan itu melaju masih mau tertatih-tatih dengan batuknya yang rada baikan.

masih dengan tujuan di awal, menantang maut hari ini, pasalnya, ada seminggu yang lalau aku menerima semacam surat dari Sevilla, tanpa keterangan siapa yang mengirim, di dalam amplop cokelat ada beberapa coretan di selembar kertas usang, aku sedikit lupa lengkap redaksinya, yang jelas, ada perintah yang menginginkan barangnya di ambil dan segera di lenyapkan, bukan barang ilegal, bukan juga barang haram secara akal, tapi sebuah cerita, cerita yang hanya untuk mencium aromanya saja membuat perut-perut mual syukur kalau tidak muntah. apa itu?, puisi cinta.

Sahabat karibku yang bernama Benjamin Rosario datang dari Sudut kota tua bagian dari Andalusia yang megah itu, Sevilla, dia akan datang dengan segudang kisahnya, kisah yang di buat-buat untuk menutupi kebusukannya, dan aku, aku akan berusaha menyumpal lubang-lubang angin angin untuk memaksa mengendapkan aromanya.

Sedikit cerita saja, Benjamin ini lahir entah dimana, yang jelas dia tumbuh besar bersama di rumah nenek yang dengan relanya menghibahkan hidupnya untuk menghidupi duo bandit ini, Nenek Ross. tak ada yang spesial darinya kecuali rahangnya yang kokoh dan hidung runcingnya, menurut Nenek Ross, dia berasal dari keturunan Barbados – Pakistan, aku tak percaya, bagaimana aku bisa percaya dengan mata sipit dari suku pedalaman di bawah kaki pegunungan Himalaya. masa bodoh prihal asal-usulnya, yang pasti, dia akan muncul di gerbang bandara dengan senyumnya yang picik, pasti itu.

Sekitar satu blok lagi aku akan sampai di bandara, kulirik jam tangan yang tinggal jarum jamnya saja itu, tepat jam 9.00, anggap saja tepat karena jarum detik dan menitnya tak ada. perasaanku agak sedikit kacau, hampir seminggu ini aku hanya tidur 1-2 jam saja per hari. Memang tak ada yang kulakukan selain mengolah pikiran yang mulai enggan, sesekali tentang kematian, tapi lebih banyak terfokuskan dengan kehidupan yang seperti mati, mati suri. Belokan berikutnya aku sudah memasuki parkiran Bandara. segera kubuka kap pintu dan kubanting dengan lembut. dan sekali lagi, seperti di muka ku tulis, kulangkahkan kaki kanan dulu bukan karena adab. menuju Arrival Point.

Berlanjut..

Leave a Reply